MERAWAT SOPAN SANTUN REMAJA DI ERA DIGITAL

Indonesia terkenal sebagai Negara yang sangat menjunjung nilai sopan santun. Sopan santun harus di amalkan dalam kehidupan sehari hari. Misalnya seperti cara kita menghormati orang yang lebih tua, berpakaian, berbicara, dan bertingkah laku.  Pasti kalian sering mendengar kata sopan dan santun dalam kehidupan bermasyarakat. Tetapi belum tentu kalian semua telah memahami apa itu perilaku sopan santun. Jadi pengertian sopan santun yaitu peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan, sekelompok manusia di dalam masyarakat dan dianggap sebagai tuntunan pergaulan sehari-hari masyarakat tersebut.

Lantas mengapa kita harus menerapkan sikap sopan santun dalam kehidupan sehari – hari? Karena sopan santun merupakan unsur penting dalam kehidupan bersosialisasi. Dengan menunjukan sikap santunlah, seseorang dapat dihargai dan disenangi dengan keberadaannyasebagai makhluk sosial dimanapun tempat ia berada. Sopan santun juga dapat membuat hidup kita menjadi lebih tenteram. Sebagai remaja yang cinta kepada tanah air Indonesia, kita harus senatiasa menjaga sikap sopan santun dalam kehidupan sehari–hari.

Sopan santun sering disebut juga dengan tata krama. Tata krama terdiri dari dua kata yaitu tata dan krama. Tata berarti adat, aturan, norma , dan peraturan. Sedangkan krama berarti sopan santun  kelakuan, tindakan, dan perbuatan. Maka dapat ditarik kesimpulan tata krama merupakan adat sopan santun atau kebiasaan sopan santun.  Tata krama dan sopan santun  atau etiket telah menjadi bagian dalam hidup kita. Dikutip dari artikel Suharti, Suharti menuliskan dalam artikelnya: Menurut Taryati, dkk. ( 1995:71 ) tata krama adalah suatu tata cara atau aturan turun temurun dan berkembang dalam suatu budaya masyarakat, yang bermanfaat dalam pergaulan dengan orang lain, agar terjalin hubungan yang akrab, saling pengertian, hormat-menghormati menurut adat yang ditentukan.

Tata krama dan sopan santun harus diterapkan oleh semua orang tanpa terkecuali. Walaupun masih anak-anak, mereka wajib dikenalkan dengan tata krama dan sopan santun. Karena bila tidak dikenalkan sejak dini, mereka bisa menjadi pribadi yang urakan dan berperilaku semaunya sendiri. Hal ini merupakan tantangan tersendiri bagi para remaja di era globalisasi. Di Era ini perkembangan teknologi komunikasi dan informasi berkembang pesat. Banyak bermunculan media sosial sebagai sarana komunikasi bagi para remaja. Seperti Facebook, Twitter, BBM, WhatsApp, Instagram, Telegram, Michat, dll. Media sosial ini memberikan dampak positif juga negatif bagi para pemakainya.

Dampak positif dari media sosial adalah memudahkan kita untuk mendapatkan informasi dengan cepat baik dari dalam maupun luar negeri. Selain itu media sosial juga dapat digunakan untuk mencari lowongan pekerjaan, menawarkan barang dagangan, mencari barang yang diinginkan serta dapat digunakan untuk media komunikasi. Melalui media sosial kita dapat berkomunikasi dengan teman, keluarga yang tinggal jauh melalui panggilan video call.

Sedangkan dampak negatif dari media sosial seperti adanya pergaulan bebas tanpa batas. Para remaja yang masih labil sering terpengaruh dengan tren yang kurang baik yang beredar di media sosial. Seperti gaya pacaran, trend berpakaian, cara berbicara dan bertingkah laku.

Tren pacaran contohnya, sudah sangat mewabah di kalangan remaja. Mereka yang tidak pacaran dianggap kurang gaul. Sedangkan mereka yang punya pacar dianggap keren, dan gaul. Masalahnya cara mereka berpacaran sudah melampaui batas norma kesopanan, norma kesusilaan, dan norma agama. Hingga terjadi pergaulan bebas, yang mengakibatkan terjadinya kehamilan bahkan aborsi bagi remaja perempuan. Semua itu terjadi karena dampak dari trend pacaran remaja yang terlalu bebas dan melanggar norma kesopanan

Karena itu kita sebagai remaja masa kini, harus berhati-hati dalam bergaul. Serta mampu menjaga nilai kesopanan dalam berpakaian. Janganlah kita menggunakan pakaian yang ketat atau terlalu minim. Walaupun itu pakaian yang sedang trending saat ini. Karena selain tidak pantas juga kurang sopan di hadapan orang lain. Sebagian orang akan menganggap rendah diri kita. Bila kita mengenakan pakaian terbuka akan memicu orang untuk melakukan tindakan asusila. Karena itu pakailah pakaian yang menutup aurat kita. Agar kita bisa menghargai diri sendiri juga lebih dihargai orang lain dari cara kita berbusana

Selain berbusana sopan, kita juga harus bijak dalam menggunakan media sosial. Apabila mengomentari postingan dari orang lain, haruslah menggunakan kata-kata yang sopan. Janganlah menghina dan merendahkan orang lain. Tindakan tersebut dapat menyebabkan kita terjerat dengan Undang Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) dengan tuduhan pencemaran nama baik. Pelanggaran terhadap UU ITE akan dijerat dengan ancaman hukuman penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal 1 milyar. Sanksi yang cukup berat tentunya bila kita sampai melanggar. Sehingga dalam penggunaan media sosial hendaklah lebih bijak dan berhati-hati. Janganlah melakukan hal-hal yang negatif hanya untuk viral, dipandang banyak orang, dan hanya untuk upgrade followers. Apalagi mengunggah hal-hal yang berbau pornografi. Pornografi sangat dilarang oleh pemerintah dan melanggar undang-undang no 44 tahun 2008 tentang pornografi dan pornoaksi. Negara pelanggar UU di atas akan mendapatkan sanksi penjara maksimal 15 tahun penjara

Selain hal di atas, ada dampak lain yaitu kecanduan game online. Tidak sedikit biaya yang dikeluarkan hanya untuk game online. Parahnya lagi mereka sampai mengorbankan waktu belajar bahkan sampai lupa beribadah. Hal itu membuat orang tua sampai melakukan berbagai upaya untuk menghilangkan kecanduan game pada anak mereka. Ada yang dibawa ke Pondok Pesantren, Psikolog bahkan sampai menghubungi Dokter Jiwa.

Lalu apakah mereka sudah gila? Tentu saja tidak! Tetapi mereka sudah jatuh pada gangguan perilaku yang tingkat penyakitnya sudah sangat berbahaya. Dikutip dari berita bersatu.com yang diterbitkan di Denpasar: menurut Psikolog Retno IG Kusuma menjelaskan bahwa kecanduan Game Online memiliki makna yang sama ketika mengalami kecanduan Narkoba, untuk itu kecanduan Game Online sering disebut sebagai Narkolema (Narkoba lewat mata).

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa remaja milenial harus berhati hati dalam menggunakan gadget mereka. Jangan sampai terjerumus pada hal hal yang negatif. Walaupun hal itu adalah sesuatu yang sedang menjadi trend saat ini. Kita harus bijak dalam menggunakan media social dengan mengedepankan etika dan tata krama yang baik dalam bersosial media.

Daftar Pustaka

Suharti. 2004. Pendidikan Sopan Santun dan Kaitannya dengan Perilaku Berbahasa Jawa Mahasiswa,

Alodokter. 2020. Ini Ciri-Ciri Kecanduan Game Online dan Cara Mengatasinya, https://www.alodokter.com/ini-ciri-ciri-kecanduan-game-online-dan-cara-mengatasinya . diakses pada 29 Oktober 2021 pukul 05.32

Kominfo.  2015. Menkominfo: Pasal 27 Ayat 3 UU ITE Tidak Mungkin Dihapuskan, https://www.google.com/url?sa=t&source=web&rct=j&url=https://kominfo.go.id/index.php/content/detail/4419/Menkominfo%253A%2BPasal%2B27%2BAyat%2B3%2BUU%2BITE%2BTidak%2BMungkin%2BDihapuskan/0/berita_satker&ved=2ahUKEwir3KyOxO_zAhVXcCsKHQ53Dm0QFnoECDIQAQ&usg=AOvVaw2E8wvtEC9BikLTbb9v4QG9. diakses pada tanggal 25 Oktober 2021 pukul 19.23

About the Author

You may also like these